Tingginya masalah perc3r4ian di Cilacap, Jawa Tengah, mengakibatkan banyak wanita yang menj4nda setiap harinya. Kondisi ini jadi masalah pelik yang dihadapi kabupaten itu.
Humas Pengadilan Agama Cilacap, Muslim mengemukakan mulai sejak awal Januari hingga Juli 2016, tercatat ada 3. 133 masalah tuntut cerai yang diserahkan ke instansinya.
" Apabila dirata-ratakan dalam sebulan ada sekitar 500 hingga 600-an mengajukan gugat c3r4i. Sedang yang diputus bisa mencapai angka 400-an dalam setiap bulannya, " tuturnya saat dihubungi, Selasa (30/8).
Dia menyampaikan angka perc3r4ian di lokasi Cilacap setiap tahunnya mengalami mode penambahan. Walaupun tidak signifikan, jumlah itu cukup selalu bertambah. Dalam catatan Pengadilan Agama Cilacap, mulai th. 2014 terdata 5. 884 masalah c3r4i yang terdiri dari 4. 035 masalah tuntut c3r4i dan 1. 849 masalah c3r4i talak. Lalu di th. 2015, tercatat sejumlah 5. 950 masalah dengan perincian 4. 098 tuntut c3r4i dan 1. 852 c3r4i t4lak.
Muslim mengemukakan, paling banyak masalah perc3r4ian itu karena masalah ekonomi keluarga. Menyebabkan, pertikaian dalam bahtera rumah tangga tak terelakan dan mengakibatkan ada satu di antara pihak yang meninggalkan kewajiban serta tanggung jawabnya.
" Umumnya, masalah perceraian karena suami yg tak bertanggung jawab hingga meninggalkan kewajiban pada istrinya, " katanya.
Selanjutnya, dia menjelaskan paling banyak pasangan suami istri yang bercerai ada di usia produktif pada 24 tahun hingga 35 tahun. Pada usia pasangan produktif itu, jelas Muslim, banyak yang belum fikirkan keberlangsungan hidup karena biasanya hanya konsentrasi pada menikah tanpa memikirkan waktu depannya.
" Beberapa 70 % memang didominasi usia produktif. Umumnya pasangan yang menikah dalam usia itu belum fikirkan masalah ekonomi dan ada pasangan yang bercerai sudah memiliki anak satu atau dua, " ucapnya.
Masihlah menurut Muslim, masalah perc3r4ian atau tuntut c3r4i diserahkan beberapa orang yang ada di tempat pedesaan. Dominasi paling tinggi, ada di kantong-kantong buruh migran yang ada di Cilacap.
" Apabila masalah ekonomi, umumnya didominasi dari tempat pedesaan. Dan memanglah dari data yang ada saat ini didominasi dari wilayah kantong buruh migran, " katanya.
Sebelumnya bekerja di luar daerah atau luar negeri, jelas Muslim, umumnya sudah memiliki permasalahan ekonomi dari rumah. Alasan itu, jelas Muslim, semakin membesar setelah salah satu pasangannya bekerja di luar daerah atau luar negeri.
" Berikut yang lalu menjadikan tempat kantong buruh migran menguasai laporan tuntut c3r4i di Cilacap, " katanya.
Dari masalah perekonomian itu, dia mengatakan kemungkinan faktor minimnya lapangan pekerjaan di daerah asal bisa jadi begitu berpengaruh dalam konteks sosial ekonomi keluarga.
" Karena minimnya lapangan kerja di tempat asal berikut, peluang banyak yang mengambil keputusan pergi ke luar daerah waktu kondisi rumah tangganya tengah alami masalah, terlebih dalam aspek ekonomi, " tuturnya.
