Apakah orang yang mati lantaran kanker termasuk juga mati syahid? Mohon penjelasannya…
Jawab :
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Sisi dari kemurahan Allah untuk umat islam, disana ada orang yang memperoleh pahala syahid, walau dia tak pernah ikut serta di medan perang. Beberapa ulama menyebutnya, syahid akhirat.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengatakan daftar mereka, seperti dalam hadis dari Jabir bin Atik, kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajukan pertanyaan pada beberapa sahabatnya,
“Siapa orang yang kalian anggap mati syahid? ”
“Mereka yang terbunuh di jalan Allah. ” jawab beberapa teman dekat.
Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
الشَّهَادَةُ سَب�'عٌ سِوَى ال�'قَت�'لِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. ال�'مَط�'عُونُ شَهِيدٌ. وَال�'غَرِقُ شَهِيدٌ. وَصَاحِبُ ذَاتِ ال�'جَن�'بِ شَهِيدٌ. وَال�'مَب�'طُونُ شَهِيدٌ. وَصَاحِبُ ال�'حَرِيقِ شَهِيدٌ. وَالَّذِي يَمُوتُ تَح�'تَ ال�'هَد�'مِ شَهِيدٌ. وَال�'مَر�'أَةُ تَمُوتُ بِجُم�'عٍ شَهِيدٌ
Orang yang mati syahid – terkecuali yang terbunuh di jalan Allah – ada tujuh, mati lantaran penyakit Tha’un, syahid, mati lantaran terbenam, syahid, mati lantaran sakit tulang rusuk, syahid, mati lantaran sakit didalam perut, syahid, mati lantaran terbakar, syahid, mati lantaran tertimpa bangunan (benturan keras), syahid, serta wanita yang mati lantaran memiliki kandungan (atau melahirkan), syahid. ” (HR. Abu Dawud 3111, dishahihkan al-Albani).
Kenapa mereka memperoleh pahala Syahid?
Walau mereka tak mati di medan jihad, tetapi mereka memperoleh pahala syahid. Lantaran mereka mati dalam keadaan memikul derita sakit. Al-Hafidz Ibnu Hajar mengutip info Ibnu Tin,
قال ابن التين : هذه كلها ميتات فيها شدة ، تَفضل الله على أمة محمد صلى الله عليه و سلم بأن جعلها تمحيصاً لذنوبهم ، وزيادة في أجورهم، يبلغهم بها مراتب الشهداء
Ibnu Tin menyampaikan, semuanya peristiwa kematian diatas, deritanya begitu berat. Hingga Allah memberi kelebihan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan jadikan semuanya penderitaan itu sebagai penghapus dosanya, serta penambahan pahala untuk dia, yang mengentarkan mereka hingga pada derajat orang yang mati syahid. (Fathul Bari, 6/44)
Apakah Orang yang Mati lantaran Kanker, Juga Memperoleh Pahala Syahid?
Dalam hadis diatas, satu diantara yang memperoleh pahala syahid yaitu orang yang mati lantaran sakit didalam perut (al-Mabthun). Serta dalam hadis diatas, tak dijelaskan kanker. Cuma saja, beberapa ulama mengerti, bila kanker itu ada di perut, jadi termasuk juga mati lantaran sakit didalam perut (al-Mabthun). Hingga termasuk juga hadis
diatas.
An-Nawawi mengatakan ketidaksamaan pendapat mengenai arti al-Mabthun (orang yang mati lantaran sakit didalam perut). Di antara yang beliau katakan,
قِيلَ : هُوَ الَّذِي تَش�'تَكِي بَط�'نه, وَقِيلَ : هُوَ الَّذِي يَمُوت بِدَاءِ بَط�'نه مُط�'لَقًا
Ada yang menyampaikan, tersebut orang yang sakit perutnya. Ada pula yang menyampaikan, orang yang mati lantaran sakit apa pun yang ada didalam perutnya. (Syarh Shahih Muslim, 13/63).
Syaikh Dr. Abdul Muhsin al-Abbad pernah di tanya mengenai orang yang mati lantaran kanker, apakah memperoleh pahala syahid?
Jawab beliau,
لا ؛ لأن السرطان لا يكون دائماً في البطن ، فقد يكون في غير البطن
Tak, lantaran kanker, tidak selamanya ada di perut. Kadang-kadang ada di terkecuali perut. (Syarh Sunan Abu Daud, rekaman no. 230).
Lalu, beberapa ulama mengatakan kalau kanker sebagai penyebabnya kematian, bukanlah lantaran efek kemaksiatan yang dia kerjakan. Umpamanya kanker lantaran merokok, atau narkoba, atau minuman keras.
Syaikhul Islam menerangkan, untuk masalah orang yang meniti perjalanan, dengan kesempatan selamat 50%, serta kesempatan kecelakaan 50%. Dalam keadaan ini, dia harus menahan diri serta tak meneruskan perjalanan. Bila tetaplah nekat, bermakna sama juga dengan mencemoohkakan dianya, hingga matinya bukanlah mati syahid.
Syaikhul Islam menyampaikan,
ومن أراد سلوك طريق يستوي فيها احتمال السلامة والهلاك وجب عليه الكف عن سلوكها ، فإن لم يكف فيكون أعان على نفسه ، فلا يكون شهيداً
Orang yang akan meniti perjalanan, sesaat ada kesempatan yang sama pada selamat atau kecelakaan, jadi harus baginya untuk menahan diri serta tak meneruskan perjalanan. Bila tak berhenti, bermakna sama juga dengan mencemoohkakan dianya. Hingga tak termasuk juga mati syahid. (al-Fatawa al-Kubro, 5/381).
Info lain, di sampaikan al-Qurthubi, seperti yang dinukil as-Suyuthi,
قال القرطبي : وهذا والذي قبله – أي : صاحب الهدم والغريق – إذا لم يغررا بنفسيهما ، ولم يهملا التحرز ، فإن فرَّطا في التحرز حتى أصابهما ذلك : فهما عاصيان
Al-Qurthubi menyampaikan, orang yang mati lantaran terbenam atau lantaran terhimpit, memperoleh pahala syahid, bila tak membahayakan dianya, atau selekasnya menghindar. Bila dia tak selekasnya menghindar, hingga terserang benturan, jadi dia mati maksiat. (ad-Dibaj a’ala Muslim, 4/508)
Beberapa ulama menilainya, saat orang bertemu dengan kemungkinan kecelakaan, sesaat dia tak menghindar, jadi dia dinilai bermaksiat. Hingga bila dia mati, terhitung mati maksiat. Terlebih mereka yang dengan cara berniat melukai isi badannya dengan merokok, minuman keras, atau narkoba.
sumber : http://www.liputanterpercaya.com/
