Dalam konteks kehidupan jangka panjang, ada gejala sosial yang butuh dikoreksi terkait dengan jalinan muda-mudi.
Masyarakat umum kini telah dibentuk fikirannya untuk menerima aktifitas bernama pacaran yang terselip diantara sekolah/kuliah serta menikah atau berimpit dengan bebrapa saat sekolah/kuliah.
Pacaran yang dimaksud yaitu kegiatan terbuka ataupun rahasia, yang melibatkan sepasang manusia berlawanan jenis yang sedang mewujudkan perasaan kasih sayang berupa perilaku mencari kesenangan baik berbentuk menghabiskan saat bersama sebatas untuk bercakap-cakap yang tak perlu, maupun tindakan lain diluar kendali akal serta logika.
Jika aktifitas berpacaran itu dilakukan dalam ikatan pernikahan, jadi keindahan dunia yang terasa akan semakin komplit dengan adanya jaminan keamanan waktu di akhirat nantinya. Mengenai untuk yang menjalaninya sebelumnya ada ikatan pernikahan, sungguh banyak ranjau cobaan yang siap untuk meledak, mencelakakan pelakunya didunia serta di akhirat.
Kenapa sebaiknya tak berpacaran sebelum menikah?
1. Menghabiskan waktu untuk suatu hal yang bisa merusak masa depan serta mempermainkan hati
2. Menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk manfaat yang belum nyata serta jauh dari kemuliaan
3. Tak aman karena tak ada kontrak, lemah di sisi hukum, berpotensi konflik dengan merugikan pihak wanita
4. Berbohong serta berdusta jadi hal umum untuk menyembunyikan perilaku asli atau menentramkan hati lawan jenis
5. Wanita bisa berpacaran dengan lebih dari satu pria, dan sebaliknya, tanpa saling mengetahui
6. Godaan syaitan untuk berzina begitu kuat, seperti kuatnya godaan kepada Nabi Adam untuk memakan buah khuldi
7. Setelah zina, ada potensi timbulnya anak di luar pernikahan, status hukumnya lemah apabila tak ada ayah
8. Apabila anak tak diinginkan oleh ibu atau ayahnya, ada potensi pembunuhan pada j4n!n ataupun bayi
9. Si pria harus bertanggung jawab apabila si wanita hamil, padahal belum pasti wanita itu berpacaran hanya dengan 1 pria
10. Dokumentasi m3su**m yang memalukan dapat saja muncul beberapa tahun kemudian, bahkan juga setelah menikah dengan orang lain
11. Menularnya penyakit k3l4m!n, hingga AIDS yang mematikan
12. Kualitas diri jadi rendah, tak ubahnya barang display yang bebas disentuh siapa saja yang tengah jadi pacar, walau sebenarnya yang dinikahinya nanti kemungkinan besar yaitu orang lain
13. Mengundang ghibah, jadi gunjingan kerabat, bisa mempermalukan orang tua
14. Anak (di masa depan) susah dilarang berpacaran, karena tahu kalau orang tuanya juga dulu berpacaran
Manusia di ciptakan dengan kelebihan serta kekurangan. Satu diantara kekurangan manusia yaitu ketertarikan pada lawan jenis yang muncul dari hubungan yang sering ataupun spontan. Jalinan tanpa ada prinsip bisa dianggap mempermainkan hati dengan sengaja, serta susah untuk di cari penawarnya jika salah satu terasa dikecewakan.
Panduan : Jangan dekati lawan jenis (tujuan), kecuali maksud Anda yaitu untuk menikah dengannya. Jika Anda belum siap untuk menikah, jangan mau didekati, ataupun mendekati lawan type.
Jadi, urutan yang benar bukanlah pacaran lalu menikah, namun menikahlah dulu, baru pacaran.
Apabila tak berpacaran, bagaimana kita bisa tahu mengenai calon pasangan yang akan menikah dengan kita?
1. Cukup hanya berteman, tanyakan hal-hal yang perlu untuk di tanyakan, misalnya pekerjaannya, penghasilannya, misinya berkeluarga, hobi serta kesenangannya, kesehatannya, jumlah tanggungannya dalam keluarga, dan lain-lain.
2. Temui calon pasangan di bawah pengawasan muhrimnya/muhrim kita, pandanglah hal yang menarik dari dirinya.
3. Cari referensi dari orang ketiga, konfirmasikan mengenai yang menginginkan di ketahui.
4. Amati dari jauh seperlunya, tanpa butuh di ketahui oleh yang sedang diamati.
5. Pertimbangkan kesamaan serta perbedaan, antisipasi beberapa hal yang berpotensi jadi penyebab perseteruan.
6. Memohon petunjuk kepada Allah SWT untuk diberikan yang terbaik sebagai pasangan.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, yang berarti : “Sesungguhnya Allah telah menetapkan untuk anak cucu Adam sisi dari zina, yang ia pasti mengetahuinya. Zina mata berbentuk pandangan, zina lisan berbentuk ucapan, serta jiwa mengharap serta inginkan. Serta kemaluan yang membenarkan atau mendustainya. ” Hadits Kisah Muttafaqun ‘alaihi
“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku. ” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r. a.)
“Empat macam di antara sunnah-sunnah para Rasul yakni : berkasih sayang, memakai aroma, bersiwak serta menikah. ” (HR. Tirmidzi)
“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah dapat untuk k4win, jadi hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu semakin dapat menundukkan pandangan serta lebih menjaga k3m4lu4n. Serta siapa saja yang belum mampu, jadi sebaiknya dia berpuasa, karena sebenarnya puasa itu dapat jadi perisai baginya. ” (HR. Bukhori-Muslim).
