expr:class='data:blog.pageType'>

Ihhhh !!! Tega Bangeeetttt''''' Para Orang Tua Di Bulgaria Menjual Belikan Anak Gadisnya Yang Masih Perawan ? Katanya Sichhh Tradisi !!


Pada hari itu, para gadis remaja Kalaidzhi di Bulgaria, gunakan baju terbaik mereka, memoles lipstik dan bedak, serta menggunakan wewangian. 

Mereka menyiapkan diri untuk jadi peserta dalam perayaan 'pasar pengantin' tradisional yang sudah berjalan lama di kota itu. 

 Perayaan itu adalah acara di mana beberapa gadis p3r4wan 'di jual' oleh sebagian orang-tua mereka, pada pria yang menawar anak gadis itu dengan harga yang tinggi. Untuk dijadikan pengantin. 

Seperti di ambil dari News. com. au, Selasa (16/8/2016), komunitas dengan populasi 18. 000 jiwa di semua timur Eropa itu, memegang kukuh tradisi pernikahan nenek moyang mereka. 

Kebiasaan pasar pengantin itu dikerjakan empat kali dalam setahun. Waktu acara berjalan, beberapa gadis akan di bawa orang-tua mereka menuju tempat perayaan dan di jual pada penawar tertinggi. 

Seorang gadis dari garis keturunan itu bahkan dapat dipaksa untuk berhenti bersekolah, untuk menikah dengan pria yang sudah 'membeli' dirinya. 

Milene Larsson melakukan perjalan berpuluh kilometer untuk merekam seperti apa perayaan 'pasar pengantin' itu, dan bagaimana reaksi beberapa remaja di Bulgaria menyikapi hal itu. 

Dalam rekaman dokumenter bertajuk 'Young Brides for Sale', Milene bersua dengan keluarga Vera serta Christo yang tengah menyiapkan dua putri mereka, Pepa serta Rossi, untuk 'dijual'. 

Beberapa gadis remaja Kalaidzhi ada dalam jual beli pengantin (jodihilton. photoshelter. com) 

 " Pasar pengantin yaitu tradisi nenek moyang populasi Kalidzhi yang masihlah dilestarikan hingga sekarang ini. Namun, saat ini sebagian gadis lebih 'bebas' untuk memilih siapa yang ingin mereka nikahi dari para sekedar pasrah di depan 'pembeli', " kata Milene. 

Milene mengaku terkejut dengan praktik jual-beli gadis perawan itu. Dia berpikir, pada zaman serba canggih ini, masihlah ada saja orang yang memperjual-belikan kebahagiaan. 

 " Kebiasaan itu bikin wanita terlihat seperti barang yang bisa diperjual belikan. Mereka seakan di buat hanya untuk mematuhi serta melayani suami mereka kelak, tanpa dapat memiliki ambisi sekalipun, " lanjut wanita itu. 

Pepa serta Rossi telah menyiapkan diri mereka dengan beli beberapa baju baru, baik yang dibeli on-line maupun dari beberapa toko. 

Beberapa gadis remaja Kalaidzhi ada dalam jual beli pengantin (jodihilton. photoshelter. com) 

Ibu mereka, Vera, begitu menunggu-nunggu hari itu. " Apabila wanita sudah tak akan perawan sebelumnya menikah, mereka akan di panggil pelacur serta wanita jalang, " kata Vera. 

 " Gadis Kalaidzhi mesti perawan waktu menikah. Ini begitu utama karena banyak uang diberikan untuk keperawanan, " lebih Pepa. 

Berbarengan dengan sepupu mereka, Mima, Pepa serta Rossi mengakui pasar pengantin itu 'menakutkan'. Ada kesempatan orang-tua bakal memberi anak mereka pada lelaki dengan duit yang semakin banyak -- tidak perduli seperti apa tampangnya. 

 " Meskipun kau sama-sama menyukai, tetapi orang-tua pasanganmu tak menyenanginya, kau tidak bisa menikah. Terlebih apabila wanita itu memiliki mata yang gelap. Mereka menginginkan yang cantik, bermata terang, putih pucat, dan kurus, " kata Mima. 

Hari yang ditunggu-tunggu juga tiba. Pepa, Mima, dan Rossi mulai merias diri mereka secantik mungkin saja. 

Agar tampak lebih 'pucat' mereka memoleskan pomade (sejenis olesan putih) untuk buat muka terlihat lebih putih. 

Dengan mengenakkan pakaian serta sepatu paling baik, sebagian gadis itu pergi menuju lokasi 'jual-beli'. 

Sebagian gadis remaja Kalaidzhi ada dalam jual beli pengantin (jodihilton. photoshelter. com) 

Saat tiba ditempat, banyak pemuda pemudi berkumpul, tertawa, berbincang-bincang, dan berfoto. 

 " Saya rasakan ada perasaan yang kompleks seperti hak wanita, nilai keluarga, dan ketidakadilan seksual, " kata Milene. 

 " Saya terasa iba waktu menggunakan saat terlibat perbincangan dengan sebagian gadis itu. Mereka takut menikah dengan seseorang yg tak mereka kenal. Mereka bahkan harus mengubur ambisi mereka, " tutur dia. 

Walaupun begitu, mereka tidak punyai alternatif yang lain kecuali ikuti tekad orang-tua dengan menikah dengan pria yang telah beli mereka dengan harga paling tinggi. 

 " Kebiasaan ini berikan kesempatan pada anak muda untuk berjumpa dengan remaja seumuran mereka. Wanita memiliki hak untuk menampik. Lelaki tak memohon mereka dengan cara segera. Mereka mengatakannya pada orang-tua serta tetua mereka, " kata bapak Pepa, Christo. 

 " Beberapa orang tua bisa bernegosiasi memastikan harga. Sekarang tak begitu ketat lagi. Bila kau tak menyukaiku kau bisa menolak, " tutur Christo
Share on Google Plus

About Vh